Dampak Fisik dan Dampak Ekonomi Pariwisata

DAMPAK FISIK DAN DAMPAK EKONOMI TERHADAP PENGEMBANGAN PARIWISATA PULAU SERANGAN

( Dibuat Sebagai Tugas Mata Kuliah Perencanaan Pariwisata -

pada saat studi S2 Kajian Pariwisata, Unud).

1.1.      Latar Belakang Masalah

Perkembangan pariwisata di Indonesia mengalami dinamika perjalanan yang menarik bagi pembangunan bangsa. Hal ini tidak terlepas dari berbagai faktor yang mempengaruhi. Dalam kurun waktu delapan tahun terakhir atau sejak bergulirnya arus demokrasi yang menyuarakan reformasi, faktor yang paling dominan mempengaruhi adalah faktor keamanan.  Walaupun demikian, tentunya faktor lain seperti ekonomi global, politik baik dalam negeri maupun internasional, serta terjadinya fluktuasi nilai tukar mata uang juga ikut mempengaruhi kondisi pariwisata Indonesia.

Khusus untuk Bali, masyarakat pariwisata Bali mulanya sering mendengar suatu kalimat yang sangat indah seperti ‘Pergilah ke Bali sebelum anda meninggal dunia’ karena Bali adalah “Sorga” terakhir di dunia. Kalimat yang dengan lugas disampaikan orang-orang yang lebih dulu mengenal Bali ( Pariwisata Untuk Bali: Biro Humas protokol Setwilda Tk I Bali : 1998). Akan tetapi, agaknya sangat ironis apabila kalimat tersebut masih terdengar sampai sekarang. Karena kenyataannya sejak terjadinya tragedi Kuta, hampir sebagian besar masyarakat Bali merasakan dampak dari keadaan tersebut. Dengan demikian sangatlah disayangkan apa yang telah terpatri dalam benak wisatawan sebuah ‘image’ yang positif ternyata dinodai oleh bejatnya moral dari pelaku yang mengakibatkan bergoyangnya perekonomian khususnya pariwisata masyarakat Bali.

Pada awal perkembangannya, pariwisata belum mendapat perhatian yang terlalu besar,  perkembangan kepariwisataan merupakan suatu kebijakan alternatif bagi bebapa negara berkembang untuk membantu perkembangan ekonomi. Cristie Mill ( 1985) memberikan beberapa argumen tentang pentingnya peranan dan pengembangan pariwisata diantaranya, pertama;permintaan atas perjalanan dunia internasional terus berkembang di negara-negara maju. Kedua; dengan meningkatnya pendapatan masyarakat di negara-negara maju berarti akan mendorong peningkatan permintaan untuk melakukan perjalanan rata- rata meningkat. Ketiga; Negara-negara berkembang membutuhkan hasil dari pertukaran mata uang untuk membantu perkembangan ekonomi mereka, untuk memuaskan harapan-harapan yang muncul dari meningkatnya pertumbuhan jumlah penduduk.

Dalam hubungannya pariwisata sebagai suatu kegiatan industri yang terus berkembang maka secara alami akan memiliki dampak baik positif maupun negatif sebagaimana Gartner ( 1996:62) mengungkapkan bahwa “ Tourism development invariably causes change.Some of change are beneficial, others are not. Whether change is considered good or bad depends on the individual and the interest group with which she/he aligned. Dari uraian yang diungkapkan Gartner tersebut dengan sangat jelas bahwa perubahan sebagai dampak dari perkembangan pariwisata, yang kesemuanya tergantung dari siapa yang memandangnya atau dengan kata lain seseorang memandang secara positif dan di lain pihak memandang secara negatif.

Salah satu dari sekian banyak wilayah pulau Bali yang dikembangkan baik sebagai kawasan wisata maupun sebagai obyek atau daya tarik wisata adalah pulau Serangan. Sebagaimana telah diketahui bahwa desa Serangan yang secara geografis berada dalam sebuah pulau kecil yang sangat dekat jaraknya dengan daratan pulau Bali, khususnya di sekitar wilayah denpasar selatan telah dijadikan sasaran pengembangan pariwisata. Diawali oleh ide dari Kodam IX Udayana saat itu, dengan maksud untuk melakukan reklamasi guna mempertahankan keberadaan pulau Serangan dan mencegah dari bahaya erosi yang berkepanjangan, maka dipercayakan pembangunan dan pengembangannya kepada  PT. BTID ( Bali Turtle Island Development) pada tahun 1991 berdasarkan surat Gubernur Bali no 593.21/11765.B.B. Pem tertanggal 27 Juni 1991        ( Lampiran 1) . Selain itu juga didukung oleh surat dari Direktur Jendral Paiwisata no 137/B.5/1/92 yang di tandatangani oleh Joop Ave tanggal 27 Januari 1992 ( lampiran 2). Dengan adanya pengembangan melalui reklamasi pantai pulau Serangan, pada awalnya tidak banyak yang terjadi masalah sebagai dampak terhadap pembangunan tersebut, termasuk dalam kaitanya dengan pengembangan pariwisata Bali.

Dalam kaitannya dengan dampak dari pariwisata terutama dari persepktif perencanaan  di Bali, penulis sangat tertarik untuk mengupas permasalahan dampak fisik, ekonomi,  dan sosial  budaya masyarakat di Bali khususnya masyarakat yang berada di Desa Serangan.

 

1.2.      Rumusan Masalah

Suatu tulisan ilmiah menjadi lebih qualified apabila melalui suatu runtutan ilmiah. Salah satunya adalah merumuskan permasalahan yang akan dibahas.  Mengacu pada uraian masalah yang tertuang dalam latarbelakang (Kusmayadi dan Sugiarto;2000) maka dilakukan perumusan masalah. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka penulis merumuskan permasalahan yang terkait, sebagai berikut :

  1. Dampak fisik, ekonomi dan sosial budaya yang bagaimana yang ditimbulkan oleh adanya pengembangan  pariwisata  di desa Serangan?
  2. Sejauh mana dampak tersebut mempengaruhi kehidupan masyarakat desa Serangan, baik masyarakat yang berhubungan langsung maupun tidak secara langsung  dengan kegiatan pariwisata

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Pariwisata

Pariwisata adalah sebagai industri yang berkembang tercepat di dunia saat ini (Ryan: 1993). Di sejumlah negara, baik di negara maju maupun di negara-negara berkembang pariwisata digerakkan sebagai perekrut tenaga kerja yang sangat besar dan menjadi sumber pendapatan ekonomi yang sangat besar. Sebagaimana diketahui bahwa kegiatan kepariwisataan adalah kegiatan yang mengutamakan pelayanan yang berorientasi pada kepuasan pelanggan.   Dilihat dari pengertian tersebut dapat di gambarkan bahwa sebagian besar dari kegiatan pariwisata  adalah berupa kegiatan manusia yang bersifat memenuhi keinginan manusia, terutama kebutuhan primer bukan lagi semata-mata kebutuhan sekunder apalagi kebutuhan tersier.

Lebih jauh definisi tentang pariwisata oleh Matheison and Wall yang dikutip oleh Chris Cooper ( 1993) adalah tourism as temporary movement to destination outside the normal home and workplace, the activities undertaken during the stay and the facilities created to cater for the needs of tourists. Dari pengertian tersebut dapat dilihat bahwa kegiatan kepariwisataan terjadi semata-mata merupakan kegiatan yang menempuh jarak dan waktu tertentu yang terlepas dari aktivitas keseharian seperti aktifitas kerja, dan yang lainnya, tetapi aktifitas yang dilakukan di luar tersebut melibatkan berbagai pihak lainnya terutama dalam pemakaian fasilitas yang berhubungan dengan pariwisata.

Adanya berbagai pengertian tentang pariwisata ,Lesley France (1997) lebih menegaskan pada pengertian bahwa pariwisata adalah kegiatan yang berhubungan dengan konteks “to do something not as a task but for pleasure” artinya melakukan sesuatu bukan sebagai tugas tetapi sebagai kegiatan yang bersifat bersenang-senang. Dalam kegiatan tersebut berarti bahwa seseorang yang melakukan perjalanan benar-benar sebagai suatu pemenuhan kebutuhan ‘menyenangkan’ baik secara lahirian maupun batiniah.

Pariwisata sebagai suatu bagian aktifitas manusia berupaya didefinisikan dalam berbagai sudut pandang oleh banyak ahli pariwisata dunia. Pendapat Leiper yang dikutip oleh Gartner ( 1996) menyebutkan bahwa pengertian pariwisata tidak hanya mencakup tentang aspek leisure, akan tetapi pariwisata merupakan system yang terbuka dari lima elemen yang berinteraksi dengan alam yang lebih luas, elemen manusia, wisatawan, dan tiga elemen geografi yaitu wilayah yang melakukan kegiatan ( generating region),  rute yang dilalui (transit route), dan wilayah yang dituju ( destination region) dan satu elemen ekonomi yaitu industri ekonomi. Kesemuanya itu diatur dalam fungsi-fungsi yang berbeda-beda berinteraksi secara fisik, teknologi, sosial, budaya, ekonomi dan faktor politik. Elemen yang dinamis terdiri dari orang-orang yang melakukan perjalanan, agak panjang yang didasari atas fikiran bersenang-senang, yang keterlibatannya dalam perjalanan meninggalkan rumah secara temporer paling sedikit satu malam. Dari pengertian yang dijabarkan lebih luas tersebut memberikan penegasan bahwa pemahaman terhadap pariwisata tidak hanya terbatas kepada aktifitas manusianya, akan tetapi mencakup berbagai elemen lainnya.

Berbeda dengan definisi yang diberikan diatas, dari sudut pandang antropologi  dan sosiologi melihat pariwisata dari sisi aktifitas yang dilakukan dalam pariwisata. Secara antropologis lebih menitik beratkan tentang apa yang dilakukan oleh orang-orang yang terlibat dalam kegiatan pariwisata, siapa saja yang terlibat dalam  kegiatan tersebut. Dengan kata lain, lebih banyak melihat keterlibatan dari masyarakat terkait dengan aktifitas pariwisata. Lebih transparan lagi dikupas oleh Nash (1996) bahwa pariwisata adalah sebuah disiplin yang salah satu sudut pandangnya adalah pariwisata merupakan suatu kenyataan akulturasi atau perkembangan yang mana orang-orang merepresentasikan budaya yang berbeda-beda, dari latar belakang sosial yang berbeda-beda yang bertemu dan memiliki konteks dan pertukaran. Dari pendapat ini nampaknya pariwisata terlihat sebagai suati interaksi sosial bagi orang-orang yang berasal dari latsa belakang budaya dan sosial

Berbagai pengertian dari pariwisata, pada dasarnya berusaha memberikan definisi yang lebih jelas mengenai pariwisata tersebut. Perlunya kejelasan dalam hal ini adalah untuk mendukung argumen terhadap aktifitas kepariwisataan yang oleh sebagia  orang masih melihatnya sebagai suatu bentuk kegiatan ekonomi semata-mata.  Gartner (1996) berusaha mendefinisikan tentang pariwisata secara lebih akademis bahwa’ tourism is a study of man away from his usual habitat, of the industry which respons to his needs and of the impacts that he and the industry have on the host sociocultural, economic, and physical environment.Dilihat dari apa yang diuraikan oleh Gartner, nampaknya kegiatan pariwisata sangat dekat dengan dinamisnya kehidupan manusia yang disatu sisi didasari oleh keinginan untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi di sisi lain tidak terlepas dari akibat yang ditimbulkan oleh aktifitas tersebut, terutama dampaknya terhadap kehidupan sosial budaya, ekonomi, dan lingkungan fisik.

 

2.2. Dampak Kegiatan Pariwisata

Berbicara tentang dampak pariwisata, Dickman (1992) memberi ilustrasi tentang dampak pariwisata sebagai berikut: It must be remembered, however, there are two sides to the coin, what is good tourism development in one way may be harmful in another. Sebagai konsekwensi dari sebuah kegiatan yang terus berkembang maka secara umum menimbulkan berbagai dampak baik secara positif maupun negatif sebagaimana yang terjadi sebagai dampak fisik,  ekonomi, dan sosial budaya.  Suatu contoh yang menarik tentang dampak dari perkembangan pariwisata ditulis oleh Foster (1994) yaitu pada tahun 1960 dimana pada salah satu bagian dari negara Prancis Polinesia yang terdiri dari pulau Tahiti dan kepulauan Tuamutu dimana pada awalnya hanya mengandalkan kehidupan negaranya dari penghasilan kelapa. Akan tetapi pada tahun enampuluhan, penghasilan andalan ini ternyata mengalami masa jenuh dan tidak lagi bisa dijadikan andalan. Dengan perubahan kebijakan dari pemerintah Prancis maka kepulauan tersebut dirubah orientasi penghasilannya dengan jalan mempromosikannya sebagai kawasan perhotelan, sehingga dalam kurun waktu dua tahun saja, penduduk di kepulauan tersebut bisa meningkat penghasilannya dan keuangan negaranya, sehingga bisa bebas dari beban pembayaran pajak. Pemerintah juga bisa memberikan bunga pinjaman yang sangat rendah untuk pembangunan hotel di kepulauann tersebut. Dari upaya untuk merubah tersebut,dampak yang timbul secara positif jelas bisa merubah perekonomian suatu Negara. Secara positif, dampak yang timbul adalah membludaknya peralatan-peralatan teknologi masuk ke daerah tersebut yang datang dari negara-negara Eropa, Amerika Jepang sehingga pembangunan sekolah, klinik, rumah sakit, listrik dll meingkat dengan sengat cepat.

2.2.1. Dampak Fisik Kegiatan   Pariwisata

Ilustrasi di atas sebenarnya juga sudah memberikan uraian tentang dampak fisik dari kegiatan pariwisata. Akan tetapi secara lebih khusus (Hall ;2003) menjelaskan dampak pariwisata terhadap lingkungan fisik sebagai berikut :

«  although the environment is one of the major drawcards of tourists, an increase in number of visitors brought by tourism can impact on the integrity and quality of the environment”

Dari apa yang dikatakan Wall tersebut dengan jelas menegaskan bahwa dengan peningkatan kunjungan pariwisata akan berakibat pada integritas dan kualitas daripada lingkungan. Ini berarti bahwa kegiatan pariwisata tidak bisa terlepas dari dampak yang ditimbulkannya, terutama yang terkait dengan dampak fisik.  Wall juga menegaskan mengenai betapa seriusnya dampak fisik  yang ditimbulkan jika terjadi ketidak cocokan bentuk dari pengembangan pariwisata.

Pariwisata sangat dekat dengan lingkungan fisik. Kedekatan ini disampaikan oleh Inskeep (1991) dengan mengupas tentang dampak yang ditimbulkan dari pariwisata terhadap lingkungan fisik. Dari paparan Iskeep mengutarakan bahwa wisatawan tidak semata mata mencari pengalaman, akan tetapi menikmati lingkungan, jadi yang dijual kepada wisatawan juga lingkungan fisik. Dengan demikian baik secara langsung maupun tidak langsung lingkungan fisik terpengaruh oleh keberadaan pariwisata. Secara positif, lingkungan bisa tertata secara artistic dan dikelola dengan sangat baik untuk kepantingan pariwisata, tetapi secara negatif juga lingkungan fisik banyak yang rusak akibat kepentingan banyak pihak untuk kegiatan pariwisata.

 

2.2.2. Dampak Ekonomi Pariwisata

Jika ditinjau dari sisi positifnya, pengeluaran para wisatawan baik wisatawan domestik maupun internasional di suatu daerah tujuan wisata adalah suatu bukti nyata bahwa keberadaan pariwisata memberi kontribusi yang sangat bagus kepada tuan rumah. Cooper,et all (1993) memberikan pendapatnya tentang hal ini; international tourist’s expenditure can be seen as an invisible export from the host country, whereas domestic can be seen as an export between the lokal regions, and perhaps, an import substitute for the national economy. Tanpa dengan maksud mengaburkan makna export dalam istilah yang umum, dalam pariwisata secara tidak langsung juga merupakan suatu nilai yang sama kaedahnya dengan model export pada umumnya. Hanya saja ada perbedaan mendasar mengenai jenis obyek yang di export. Jika export pada umumnya bahwa barang dipindahkan dari negara asal ke negara tujuan, untuk pariwisata obyek yang dijadikan export masih tetap berada di negara asal, dengan kata lain barang yang di export tidak berpindah ke negara tujuan.

Sebagaimana diketahui belakangan ini, kecenderungan negara-negara berkembang dewasa ini mengembangkan industri pelayanan jasa. Sebuah studi dilakukan oleh Cooper, at al ( 1993) menemukan bahwa secara ekonomi negara-negara berkembang mengarahkan pada sektor pelayanan jasa hingga mendongkrak pemasukan mencapai 40% untuk Gross Domestic Product (GNP), sementara di negara-negara maju telah mencapai 65% dari GNP di hasilkan dari industri pelayanan jasa termasuk pariwisata. Oleh karenanya pariwisata betul-betul memberikan kontribusi positif kepada devisa negara. Dengan dampak positif yang sedemikian besar, maka setiap negara yang memiliki peluang untuk ikut bersaing dalam industri ini akan ikut menggunakan segala potensi yang dimilikinya.

Beberapa dampak positif lain yang mudah dilihat sebagai akibat perkembangan pariwisata adalah adanya peluang kerja yang sangat banyak karena pariwisata merupakan kegiatan yang multi sektoral, sebagai ilustrasi, ketika suatu negara dinyatakan membuka peluang untuk pengembangan suatu destinasi pariwisata, maka muncul berbagai kegiatan-kegiatan atau usaha-usaha yang terkait dengan keberadaan pariwisata ini. Masyarakat sekitar mencari dan membuka peluang-peluang kerja yang sangat banyak sehingga tidak seperti suatu industri barang atau materi yang terbatas memberi peluang pada usaha yang dikembangkan saja, kalaupun ada yang lainnya tetapi tidak sebesar peluang yang diakibatkan oleh pariwisata.

Banyak hal menguntungkan dengan adanya kegiatan kepariwisataa, Dickman (1992) memberikan beberapa potensi yang bisa diuntungkan antara lain; menciptakan keseimbangan perdagangan yang cukup baik, menciptakan kesempatan kerja baru, mempromosikan produksi lokal, meningkatkan pendapatan pemerintah, memberikan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cepat, membantu mengembangkan pada suatu daerah tertentu, memberi rangsangan terhadap terjadinya permintaan lokal. Oleh karena sedemikian besar potensi atau sektor yang bisa di untungkan, maka di negara-negara maju seperti Australia yang pada setiap tahunnya bisa memberi peluang kerja mencapai 6% dari segala sektor ketenaga kerjaan negara tersebut, maka berupaya sekali untuk menjadikan pariwisata sebagai sektor yang mendapat perhatian besar.

Dari sisi negatif, dampak pariwisata secara umum mengakibatkan masalah ekonomi yang cukup marisaukan. Cooper ( 1993) mencatat beberapa sisi negatif dari adanya pariwisata diantaranya; terjadinya perpindahan penduduk dari desa ke perkotaan yang sulit dikendalikan yang membawa implikasi yang tidak baik bagi ekonomi pedesaan maupun perkotaan. Disamping itu berakibat pada adanya pergeseran minat kerja yang semula masyarakat bekerja pada sektor agrobisnis, nelayan, pabrik-pabrik, berpindah ke bidang pariwisata yang dianggap lebih mudah cara kerjanya, lebih halus dan berpenghasilan lebih cepat dengan nilai hasil yang lebih tinggi. Bahkan tragisnya secara perlahan bisa menyebabkan terjadinya penyingkatan keterampilan atau pendidikan karena terlalu cepat berkeinginan untuk bekerja, sehingga nilai jual dari tenaga kerja tersbut menjadi murah, dengan kondisi ini akan berakibat pada penurunan pemasukan bagi negara yang mempekerjakan tenaga kerja yang memiliki keterbatasan ilmu dan keterampilan di bidang kepariwisataan.

 

2.2.3.      Dampak Sosial Budaya Pariwisata

Salah satu dampak yang ditimbulkan dari perkembangan pariwisata adalah dampak sosial budaya. Dampak sosial budaya dari pariwisata secara sepintas sepertinya merupakan dampak yang tidak bisa secara kasat mata dilihat, akan tetapi apabila dicermati dengan lebih mendalam, dampak sosial budaya yang ditimbulkan akan dengan sangat jelas terlihat sebagai akibat dari aktifitas pariwisata

Menurut Adhika Japari (dalam Adhika;2004) ada beberapa dampak positif dari perkembangan pariwisata dilihat dari dampak social budaya. Dampak sosial budaya tersebut antara lain (1) pelestarian nilai budaya, (2) menjembatani nilai budaya dan psikologi,(3) pelestarian situs bersejarah,(4) pembangunan renovasi, (5) penyegaran budaya,(6) terciptanya kebanggaan atas aset budaya yang ada,(7) pendidikan bagi masyarakat. Sedangkan dampak sosial budaya dari sisi negatifnya antara lain ; bagi penduduk lokal meliputi  (1) muncul kegiatan yang tidak diinginkan,(2) judi,(30) narkotika, (4) pelacuran. Sedangkan secara umum muncul beach boys , premature departure to modernization, mengubah pola dan kebiasaan sosial, demonstartion effect ( remaja cenderung meniru pengaruh-pengaruh tidak baik dari wisatawan)

Dalam hal pengaruh atau dampak social bidaya ini, Inskeep (dalam Adhika;2004) mengatakan bahwa perkembangan pariwisata membawa dampak social budaya berupa peniruan-peniruan seperti peniruan prilaku, cara berpakaian, sikap yang bertentangan dengan masyarakat local, pola konsumsi. Sedangkan Randell ( dalam Adhika;2004) juga mengatakan adanya dampak social budaya secara negative dari perkembangan pariwisata terutama yang berhubungan terjadinya komersialisasi asset budaya sehingga terjadi penurunan nilai keaslian budaya tersebut. Penurunan nilai tersebut terutama yang  berhubungan dengan seni, upacara adapt dan keagamaan, musik dan tarian tradisional.

Dari sisi negatif dampak sosial budaya yang ditimbulkan oleh perkembangan periwisata yang secara cepat, Foster ( 1994) menguraikan beberapa dampak nyata diantaranya   adanya tingkat kriminal yang tinggi, perjudian yang semakin marak, masyarakat lebih bersifat materialistik, serta prostitusi.

Berbeda dengan Foster,    Mathicon dan Wall ( 1986) berupaya menghubungkan dampak dari pariwisata sebagai akibat adanya hubungan antara host dan tourist. Interelationship antara keduanya ( host dan tourist) memunculkan berbagai dampak diantaranya terjadinya pergesekan sosial. Pergesekan sosial dari sisi positif terjadi secara aktif dan bisa juga secara pasif, secara aktif ada kecenderungan perubahan sebagai suatu yang dikehendaki atau diinginkan yang berupa promosi dan dukungan terhadap aktifitas wisatawan. Sedangkan secara pasif terjadi dukungan penerimaan atau pemasukan yang besar dari dukungan terhadap aktifitas pariwisata. Demikian juga pada sisi negatif Mathicon dan Wall menguraikan tentang akibat secara aktif yang ditimbulkan yaitu terjadinya opposisi yang agresif terhadap aktifitas pariwisata dan secara pasif terjadinya penerimaan atau pemasukan yang secara diam-diam tetapi bertentangan dengan aktivitas pariwisata.

Pariwisata sebagai suatu industri memang sulit untuk menghindarkan dari dampak yang ditimbulkan, hanya saja pandapat tentang dampak tersebut harus jelas, dan rasional. Banyak ahli yang telah dengan gamblang menguraikan tentang dampak tersebut temasuk Gartner ( 1996) yang membaginya dalam dua katagori yaitu dampak secara kualitatif dan dampak secara kuantitatif. Secara kualitatif memang sulit untuk mengukur, karena dampak ini hanya bisa diamati, misalnya terjadinya akulturasi dalam kehidupan sosial dari dua budaya yang berbeda, walaupun sudah menjadi wacana secara teoritis bahwa pada akulturasi jika dua budaya berinteraksi, budaya yang dominan akan menguasai budaya yang lebih lemah. Contoh lain adalah terjadinya manusia marjinal, terjadi cultural shock yang menurut Oberg  dalam (Gartner 1996;169) diartikan sebagai rasa cemas yang akibatkan oleh hilangnya physical and psychologicalmarker’ dari lingkungan tempat tinggal seseorang. Satu contoh menarik dari pandangan Gartner secara kualitatif adalah terjadinya komodisasi ilustrasi dari komodisasi budaya, suatu pertunjukan seni yang dipertontonkan oleh host kepada wisatawan yang semata-mata disajikan sebagai kepentingan pariwisata, sedangkan wisatawan sesungguhnya tidak terlalu menggangap penting untuk melihat pertunjukan itu, tetapi dari pertunjukan itu akhirnya wisatawan menganggap sebagai suatu pengalaman budaya atau dengan kata lain, apa yang dilihat dari pertunjukkan tersebut bukan merupakan tujuan utama dari kehadirannya pada destinasi yang dituju.

Di lain pihak, secara kuantitatif dampak daripada pariwisata lebih mudah di ukur, misalnya terjadi kriminal,  prostitusi, narkoba, meningkatnya non-belivers atau orang-orang yang tidak lagi percaya kepada Tuhan atau  suatu agama. Dari contoh ini dapat diperhatikan sepintas misalnya meningkatnya angka kriminalitas suatu negara yang diakibatkan adanya rangsangan yang beranggapan bahwa wisatawan yang berkunjung ke suatu negara selalu membawa uang banyak. Demikian juga peluang terjadinya prostitusi dimana ada masyarakat tertentu yang menganggap bahwa adanya wisatawan  memberi peluang untuk melayani melalui jasa prostitusi. Kedatangan wisatawan juga seakan-akan memberi peluang bagi para pengedar narkoba yang secara dominan mengincar mangsa kepada wisatawan.

Lebih jauh dampak pariwisata terhadap kehidupan sosial budaya terutama dalam hubungannya dengan perkembangan pariwisata yang berkembang secara pesat, maka secara kontruktif, kehadiran pariwisata dapat membangkitkan kreasi elemen-elemen dari budaya yang umumnya berhubungan dengan pariwisata yang diantaranya; kerajinan, bahasa, tradisi, gastronomy, seni dan musik, termasuk konser, lukisan,dll, aktifitas yang dilakukan oleh penduduk dengan yang memanfaatkan teknologi, sejarah dari suatu daerah termasuk manifestasinya yang dapat dilihat langsung, arsitektur yang memberi nuansa berbeda dengan yang biasanya dilihat oleh wisatawan, pakaian-pakaian dan aktifitas untuk bersenang-senang. Dari keseluruhan elemen yang diuraikan diatas, ada beberapa yang mengalami suatu perkembangan yang sangat baik ( positif) . Seperti yang pernah diteliti oleh Mathicson ( 1986) bahwa keterlibatan masyarakat untuk bertanggung jawab dan secara konsisten mengembangkan beberapa elemen seperti institusi budaya, kerajinan,  tradisi, gastronomy arsitektur dan aktifitas untuk bersenang-senang menduduki peringkat pertama. Jadi elemen-elemen ini betul-betul diutamakan. Disamping yang telah dipaparkan diatas, Gartner (1996;176) memberikan beberapa gambaran yang menguntungkan atas kehadiran pariwisata disuatu wilayah atau negara. Ia mengatakan bahwa kedatangan dunia pariwisata dapat meningkatkan taraf hidup, meningkatkan kesempatan kerja, menguatkan kemampuan daya beli. Berkembangnya tingkat kedatangan wisatawan dapat meningkatkan pelayanan-pelayanan sosial dasar seperti keamanan, dan pengobatan.

Dari sudut pandang sosiol budaya, keberadaan pariwisata secara positif memberikan nilai yang sangat baik yaitu timbulnya rasa saling menghargai dalam latar belakang sosial budaya yang berbeda, menciptakan kedamaian bagi setiap warga negara yang datang sebagai wisatawan, memberikan rasa bangga terhadap budaya yang dimiliki oleh host karena dapat ditampilkan dihadapan budaya lain bahkan dari negara yang berbeda sehingga host (tuan rumah) dapat meciptakan kreasi budaya untuk mendukung aktiffitas pariwisata.

2.3 Strategi Meminimalisasi Dampak Negatif dari Pariwisata

Agar dampak negatif dari pembangunan atau pengembangan pariwisata dapat diminimalkan maka perlu kiranya menerapkan beberapa strategi. Menurut Inskeep (1991) tujuan daripada pembuatan strategi adalah untuk (1) mengembangkan kesadaran yang lebih besar dan pengertian terhadap besarnya kontribusi daripada pariwisata yang dapat membangun ekonomi dan lingkungan,(2) Untuk mempromosikan keseimbangan dalam pembangunan,(3) untuk meningkatkan kualitas hidup daipada masyarakat tuan rumah,(4) untuk memberikan kualitas pengalaman yang tinggi kepada wisatawan,(5) untuk memelihara kualitas lingkungan dan agar terciptanya pembangunan pariwisata yang berkelanjutan (tourism sustainable development). Dengan menekan dampak negatif tersebut diharapkan keberlangsungan pariwisata dapat dipertahankan dengan baik.

Lebih lanjut Cooper ( 1993) memberi gambaran strategi   agar dampak negatif dari pariwisata dapat ditekan. Strategi ini disebut integrated planning development, dimana suatu kagiatan pariwisata yang didahului dengan perencanaan yang matang  yang meliputi unique product characteristics, fast earner of foreign exchange, labour intensive, on the job training, protectionism, multitude of industries, pricing flexibilities, price competitive, sesionality dan high operating leverage/fixed cost. Strategi perencanaan tersebut sebenarnya telah mempertimbangkan aspek-aspek yang bisa meminimalkan dampak negatif. Aspek-aspek tersebut meliputi aspek fisik,ekonomi, sosial budaya.

Tahapan proses yang hendaknya dilakukan dalam melakukan perencanaan pengembangan tersebut diantaranya;

(1) melakukan studi persiapan atau kelayakan,

(2) penentuan sasaran ( objectives),

(3) mengadakan survey,

(4), Melakukan analisis,

(5) Kebijakandan perumusan perencanaan,

(6) Memberikan rekomendasi,

(7) tahap implementasi, dan

(8) melakukan pemantauan atau monitoring dan mem-formulasi ulang.

Dari kedelapan tahapan di atas, satu hal yang paling penting yang berkenaan dengan dampak adalah melakukan analisis. Dalam melakukan analisis ini, termasuk melakukan analisis terhadap kemungkinan dampak yang ditimbulkan dari perencanaan hingga pada tahap implenentasi tersebut. Jadi dalam melakukan analisis hendaknya sudah mencakup hal-hal secara komprehensip seperti dampak pembangunan terhadap masyarakat tuan rumah, dampak lingkungan, implikasinya terhadap ekonomi (dalam beberapa indikator, misalnya ketenaga kerjaan, penghasilan, pemasukan bagi pemerintah dan perdagangan nilai mata uang), analisis ini juga memperhitungkan resiko yang terjadi dan sensitifitas dari akibat-akibat yang timbul terhadap terjadinya perubahan-perubahan asumsi.

Dalam hal menekan terjadinya berbagai dampak negatif dari pariwisata terutama dalam hal dampak sosial budaya, Gartner (1996;182) menguraikan beberapa metode yang bisa dilakukan, diantaranya;

  1. Memberikan informasi kepada masyarakat setempat ( tuan rumah) keuntungan dan hasil yang diperoleh dari pariwisata. Banyak yang tidak melakukan hal ini, sehingga masyarakat setempat menjadi kaget dan akhirnya tidak serta merta memperhatikan seberapa besar pengeluaran tamu yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Hal ini bisa menimbulkan sifat antipati. Tetapi apabila cara ini dilakukan dengan benar, maka pasti akan menghasilkan suatu dukungan dari host itu sendiri.
  2. Rencanakan pariwisata yang didasari atas tujuan dan proiritas yang  di kehendaki atau diidentifikasi oleh masyarakat setempat. Untuk mencapai hal ini bisa dilakukan melalui polling, pertemuan, dan sebagainya.
  3. Libatkan sektor publik dan sektor suasta dalam proses pengembangkan dengan tetap melibatkan sumber daya manusia secara integral dari masyarakat lokal.
  4. Berikan prioritas kepada kelompok minoritas atau orang-orang asli dari daerah tersebut untuk ikut terlibat dalam industri pariwisata.
  5. Gunakan modal lokal, kearifan lokal, dan sebisanya tenaga kerja lokal.
  6. Berikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan dalam lokal event dan festival-festival
  7. Tangani dahulu masalah-maslah yang terjadi paling dini sebelum berlarut meningkat pada pengembangan pariwisata.
  8. Jika tema pengembangan telah di pilih, hendaknya meliputi wilayah sejarah, gaya hidup, atau setting geografi.
  9. Program promosi hendaknya merefleksikan image bahwa pariwisata itu didukung oleh sepenuhnya oleh masyarakat lokal atau masyarakat setempat.

Dari kesembilan metode yang ditawarkan oleh Gartner diatas diharapkan akan mampu memberikan antisipasi terhadap timbulnya dampak fisik, ekonomi dan  sosial budaya atas pembangunan pariwisata.

 

BAB    III
PEMBAHASAN TERHADAP PERMASALAHAN

3.1. Dampak  Pariwisata terhadap Kehidupan Masyarakat Desa Serangan

Setelah memperhatikan sederetan  dari pendekatan teoritis tentang dampak dari kegiatan pariwisata, khususnya yang didasari atas tinjauan perencanaan dan beberapa disiplin lainnya, dimana pembahasan dampak yang meliputi dampak fisik, ekonomi dan sosial budaya maka dalam bab ini akan melihat implementasi dari teori tersebut di suatu daerah tujuan wisata yang ada di Bali yaitu di desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Denpasar.

Bali yang seakan menjadi barometer pariwisata Indonesia tidak pernah luput dari dinamika sebagai bagian yang harus dihadapi sebagai kenyataan. Pada awal tahun tujuh puluhan, dimana awal mula digencarkannya kegiatan kepariwisataan di Bali memang belum merasakan apa yang akan terjadi, tetapi sudah bisa membayangkan bahwa pada tahun tujuh puluhan kepedulian masyarakat yang dengan sangat terbatasnya sumber daya saat itu, mulai menoleh kedepan apa yang harus diantisipasi, sehingga munculah apa yang dikenal sebagai Sceto Plan yang awalnya ingin menempatkan atau memposisikan pariwisata Bali dengan antisipasi yang baik terhadap beberapa dampak yang memungkinkan terjadi di masa mendatang.

 

3.1.1. Dampak Fisik Perkembangan Pariwisata Terhadap Desa Serangan

Desa Serangan sebagai salah satu obyek pariwisata di Bali tak luput dari perhatian banyak pihak terutama yang berniat untuk mengembangkan pariwisata dengan melihat potensi yang dimiliki desa serangan.  Jika dilihat secara fisik, sebelum adanya proyek pengembangan pulau Serangan, luas keseluruhan pulau serangan adalah seluas 112 hektar ( Gambar 1).  Sejak adanya proyek pengembangan pulau Serangan oleh PT. Bali Turtle Island Development ( BTID) maka ada perubahan yang sangat jelas yang terjadi pada bentuk pulau Serangan tersebut Hal ini disebabkan adanya penambahan luas daratan melalui reklamasi sebanyak 379 hektar sehingga luas seluruhnya setelah direklamasi enjadi 491 hektar ( Lemlit Unud, 1995). . Proyek yang dibangun dengan mega proyek dan investasi yang menelan biaya ratusan milyard tersebut telah merubah wajah pulau kecil tersebut dengan cara mereklamasi pantai di sebelah timur, selatan, barat daya, dan sebagian di utara pulau Serangan  Gambaran terakhir hasil reklamasi tersebut sebagaimana pada gambar 2 terlampir.

Sebelum adanya proyek tersebut, Pulau Serangan dengan jelas masih terpisah dari pulau Bali. Sedangkan sejak adanya pengembangan, maka pulau Serangan telah betul-betul terhubung menjadi satu dengan pulau Bali. Maka Secara fisik tidak hanya pulau Serangan yang mengalami perubahan, akan tetapi juga pulau Bali itu sendiri.   Dari sisi dampak positif, maka hal ini nampak sangat positif, karena masyarakat desa setempat menjadi lebih mudah dalam melakukan kegiatan kepariwisataan atau kegiatan ekonomi lainnya melalui transportasi darat dimana waktu tempuh menuju daratan pulau Bali akan lebih cepat dan lebih mudah.

Disamping dari sisi transportasi, dampak fisik dari pengembangan pulau Serangan adalah juga memberikan peluang kepada penduduk untuk memperluas areal pemukiman ( Gambar 3) memperluas prasarana pariwisata, memperluas areal lahan pariwisata, pelestarian benda cagar budaya dan memperluas pembangunan sarana keagamaan ( Sapta ; 2004). Oleh karena pantai disekitar pulau Serangan adalah pantai yang  pasang surut, maka pengurukan atau reklamasi pantai serangan yang dilakukan secara besar-besaran memberikan manfaat positif terhadap perluasan tempat tinggal. Hal ini terlihat dari dipindahkannya 23 KK penduduk yang berada di bagian selatan pulau Serangan  selanjutnya menempati wilayah reklamasi di Banjar Dukuh dan Banjar Kawan. Demikian juga pada pembangunan prasarana pemerintahan khususnya tempat pembangunan Kantor Kepala Desa di Banjar Tengah, dengan pembangunan tersebut menebabkan lahan pembangunan kantor Kepala Desa tersebut menjadi sangat layak dan lebih baik dari sebelumnya. Dilihat dari kepentingan pariwisata, sejak diadakannya reklamasi secara fisik di pulau Serangan telah memberikan peluang yang lebih luas dan nyaman untuk kegiatan pariwisata seperti untuk memancing, menyaksikan pelestarian penyu ( Gambar 4, 5, 6)serta kegiatan wisata lainnya. Wayan Artana, salah seorang warga desa Serangan mengatakan bahwa dengan adanya pembangunan jalan yang menghubungkan Baypass Ngurah Rai dan pulau Serangan, kunjungan wisatawan nampak lebih banyak karena transport yang menuju desa Serangan lebih mudah dibandingkan dengan sebelum adanya pengembangan pembangunan prasarana pariwisata tersebut. Demikian juga dampaknya terhadap prasarana keagamaaan, dimana pengembangan pembangunan pulau Serangan memberi kontribusi positif terhadap prasana peribadatan berupa perluasan lahan parker untuk persembahyangan, perluasan lahan untuk antre bagai pada pemedek yang akan melaksanakan persembahyangan pada saat piodalan.

Dengan semakin luasnya wilayah pulau Serangan maka secra positif bagi penduduk setempat merasa lebih nyaman untuk tinggal dan tidak merasa was-was dari kemungkinan terjadi bencana yang berasal dari laut. Daratan yang membentang luas seperti gurun yang masih kosong tanpa ada bangunan fisik ( gambar 7,8,9) mengisyaratkan bahwa perluasan pulau serangan akan memberikan peuang bagi pembangunan dimasa men datang, termasuk pembangunan dan pengembangan pariwisata.

Selain dampak positif, dampak negatif yang ditimbulkan secara fisik dari pengembangan pulau Serangan juga bisa terlihat jelas yaitu terjadinya perubahan alur ombak laut pada pesisir pantai dikawasan selatan ( Gambar 10).  Kalau mulanya atau sebelum pengembangan, ombak laut bisa meliuk melalui sela antara pulau Serangan dengan pulau Bali, maka sekarang tidak lagi, sehingga ombak laut berubah alur. Dengan perubahan ini, berakibat pada sisi-sisi  daerah pesisir pantai lainnya terutama yang berjarak  antara 1 sampai 10 mil laut dari pulau serangan. Secara jelas dapat dilihat adalah terjadinya kerusakan pada daerah pantai sekitar Sanur, bahkan sampai ke Padang Galak. Disamping itu juga terjadi dampak terhadap biota laut di sekitar pulau Serangan sebagai akibat menurunnya pasokan aliran air laut yang biasanya menggenangi secara normal terhadap biota laut tersebut.

 

3.1.2. Dampak Perkembangan Pariwisata terhadap Ekonomi Masyarakat Desa Serangan.

Dari sisi ekonomi dapat di lihat beberapa contoh positif dari dampak pengembangan pariwisata di desa Serangan, diantaranya; kehidupan masyarakat desa Serangan menjadi semakin maju karena akses munuju wilayah perkotaan menjadi semakin lancar dan biaya yang ditimbulkan semakin murah. Dengan kondisi yang demikian maka kegiatan ekonomi masyarakat desa Serangan menjadi sangat lancar terutama dalam hal menyalurkan hasil-hasil produksi masyarakat desa. Beberapa dampak positif terhadap kegiatan ekonomi masyarakat adalah adanya bermunculan café-café yang saat ini mencapai 25 buah (Gambar 11)  adanya kegiatan pelestarian penyu yang secara ekonomis menghasilkan penangkaran ratusan penyu, sebagaimana yang dilakukan oleh Wayan Artana (Gambar 12)  Disamping konservasi, penyu-penyu yang ditangkar juga sering digunakan untuk kebutuhan upacara agam baik bagi masyarakat Serangan sendiri maupun masyarakat dari luar desa Serangan. Dengan adanya usaha tersebut maka secara langsung dapat meningkatkan ekonomi masyarakat desa di pulau Serangan. Selain, kegiatan ekonomi yang telah disebut diatas, di pulau serangan saat ini juga ada pembudi dayaan rumput laut, kegiatan nelayan yang kesemuanya dapat dengan lebih mudah dipasarkan ke luar wilayah pulau Serangan. Sisi ekonomi lainnya dari pengaruh pengembangan pulau Serangan adalah adanya pemasukan keuangan sebagai kas desa. Pemasukan keuangan terutama berasal dari dana karcis masuk yang dikenakan kepada setiap orang yang memasuki pulau Serangan dengan tarip Rp.500,- bagi pengendara sepeda motor dan Rp. 1000,- bagi pengendara mobil ( Gambar 13).  Pemasukan dari karcis masuk tersebut cukup besar, dimana dananya digunakan untuk menunjang pembangunan desa dan keperluan pemeliharaan sarana-dan prasarana  peribadatan yang ada di desa Serangan.

Dari peningkatan ekonomi masyarakat desa Serangan berakibat pada meningkatnya kesadaran dan kemampuan  masyarakat Bali untuk melakukan kegiatan keagamaan. Secara komunal bisa dilihat dengan semakin semaraknya masyarakat untuk melakukan kegiatan keagamaan yang bahkan bisa melakukan kegiatan tersebut hingga pada tingkat utama. Disamping itu juga bisa dilihat dari semakin trampilnya masyarakat desa Serangan dalam bidang penguasaan bahasa internasional, komunikasi internasional, melakukan bisnis pada tingkat internasional, serta melakukan pertukaran budaya di tingkat internasional

Beberapa contoh diatas telah cukup memberi gambaran yang positif terhadap dampak positif yang ditimbulkan oleh perkembangan pariwisata di desa Serangan.. Dengan demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa pariwisata dapat memberikan nilai ekonomi yang sangat besar kepada masyarakat desa Serangan. Dengan semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisata ke Bali, maka semakin besar pula pendapatan yang diperoleh oleh masyarakat desa Serangan, dan pasti semakin besar pula keuntunagn ekonomi yang di raih oleh masyarakat desa tersebut.

 

3.1.3 Dampak Sosial Budaya Pengembangan Pariwisata terhadap Masyarakat Desa Serangan

Selain dampak fisik, ekonomi yang telah dipaparkan diatas, maka tidak dapat dihindarkan pula adanya dampak sosial budaya yang timbul sebagai akibat pengembangan obyek wisata pulau Serangan . Jika dilihat desa Serangan sebelum dikembangan sebagaimana telah diuraikan di atas, maka nampak seperti terisolir oleh batasan laut (Gambar 14)  Hal ini sangat mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat setempat. Setelah adanya pengembangan maka banyak dampak yang secara sosial budaya baik positif maupun negatif yang muncul.

Secara negatif, dengan kondisi seperti sekarang maka beberapa dari masyarakat desa Serangan merasa terangkat secara ekonomi, maka trend kehidupan glamour juga mengikuti. Sebagai contoh, banyak bisa dilihat anggota masyarakat yang menggunakan aksesoris yang secara sisial budaya tidak mencerminkan keaslian dari masyarakat setempat. Adanya peningkatan arogansi komunal yang dicerminkan dengan pemungutan biaya masuk melalui pintu masuk desa Serangan terhadap masyaratkan yang berasal dari luar desa Serangan. Pengenaan biaya masuk ini di satu pihak berdampak positif sebagaimana diuraikan di atas, tetapi dipihak lain seakan-akan merasa terlalu komersial, padahal wilayah desa Serangan juga merupakan wilayah Bali secara utuh. Hal ini nampak kurang memperhatikan pertimbangan sosial, karena untuk masuk ke pulau Serangan setiap orang dianggap sebagai wisatawan, tidak dibedakan seseorang sebagai wisatawan dan sebagai masyarakat Bali. Semestinya karcis masuk tersebut  dilakukan pemilahan biaya karcis dimana masyarakat Bali tidak semestinya dikenakan karcis sebagaimana yang berlakum saat ini. Dari sisi ini terlihat nuansa pengembangan pulau Serangan memiliki kesan negatif bagi masyarakat Bali sendiri.

Secara positif, masyarakat desa serangan menjadi lebih maju. Hal ini bisa dibuktikan dengan telah mulai adanya sejumlah masyarakat yang termotivasi untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang sarjana bahkan belakangan sampai jenjang pasca sarjana. Nilai sosial budaya yang muncul dari perkembangan obyek wisata serangan adalah sebagai pemicu masyarakat ingin bergerak lebih maju. Contoh lain dari sisi sosial budaya yang secara positif dari hal ini adalah bahwa masyarakat desa serangan telah tergerak secara positif untuk ikut bersaing di dunia yang semakin moderen. Budaya masyarakat yang awalnya mengandalkan hasil dari potensi laut telah berubah pada beberapa potensi lainnya seperti pengoptimalan sarana-sarana kegiatan olah raga laut (water sport) dan kegiatan ekonomi perdagangan lainnya.

 

BAB    IV

KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dipaparkan di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan .

Pertama, Perkembangan dan pembangunan pariwisata merupakan industri yang dalam kegiatannya menimbulkan dampak baik positif maupun negatif. Dampak yang ditimbulkan berupa dampak fisik atau lebih dikenal dengan dampak lingkungan, dampak ekonomi, dan dampak sosial budaya.

Kedua, Dalam kaitannya dengan dampak tersebut, desa Serangan sebagai salah satu obyek wisata yang sempat dikembangkan merasakan adanya dampak-dampak yang secara nyata mempengaruhi kehidupan masyarakat desa setempat. Secara fisik, adanya perubahan bentuk pulau serangan, adanya dampak terhadap biota di sekitar dan pesisir laut di Serangan, terjadinya perubahan ekonomi sejak adanya proyek pengembangan pulau Serangan, dan terjadinya beberapa perubahan sosial budaya yang dipengaruhi adanya pengembangan desa atau pulau Serangan.

Ketiga, Untuk menanggulangi atau meminimalkan dampak negatif daripada suatu perkembangan pembangunan pariwisata hendaknya perlu diperhatikan suatu perencanaan yang matang. Perencanaan dimulai dari tahapan yang terstruktur yaitu analisis perencanaan sampai terakhir pada monitoring dan evaluasi perencanaan yang digunakan dalam pembangunan pariwisata. Dengan perencanaan yang baik, maka niscaya tujuan perencanaan akan dapat terlaksana dan pembangunan pariwisata akan sangat dirasakan secara baik oleh semua lapisan masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Adhika, 2004. Materi Kuliah Perencaan Pariwisata. Kajian Pariwisata Unud

Gartner, Rcichard.1996. Tourism Development. International Thomson Publishing

Pendit,S. Nyoman. 2003. Ilmu Pariwisata, Sebuah Pengantar Perdana. PT Percetakan Penebar Swadaya,Jakarta

Pendit,S Nyoman .1999. Wisata Konvensi, Potensi Gede Bisnis Besar. PT Gramedia Pustaka Utama,Jakarta

Spillane,J James. 1990. Ekonomi Pariwisata, Sejarah Dan Prospeknya.Kanisius,Yogyakarta

Wahab,Salah. 1997. Pemasaran Pariwisata. PT Pradnya Paramita, Jakarta.

 

 

 

This entry was posted in Scientific and Research and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s